Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal

Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal

Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal – Little A, sebelum saat kejadian
Tuhan memang maha asyik. Saya diajak guyon pas liburan sekeluarga ke Bali tempo hari. Sabtu pagi aku dibuat jumawa sebab profil keluarga kami dimuat di koran Jawa Pos, bersanding bersama profil Mbak Nyomie yang udah naik turun gunung mempunyai anaknya dan juga Mbak Sha Ine Febriyanti, aktris papan atas. Lha apalah aku ini, Emak-Emak ndeso yang ikutan nampang di koran. Jelas aku besar kepala. Sabtu siangnya kami disambut bersama amat ramah di hotel Tugu di Canggu Bali. Di hotel mewah ini semua permintaan kami sanggup dituruti. Mau afternoon tea di bale-bale? Boleh. Mau sarapan di pantai? Monggo. Di sini tamu bagaikan raja, kami hingga menyesal sebab hanya menginap satu malam saja. Lha gimana lagi, menangin voucher hotel-nya hanya untuk satu malam :p. E lha kok Minggu sorenya kami ‘diusir’ dari beach club yang tersohor di tempat Seminyak ini. Ha-ha-ha.
Saya bukan penggemar beach club atau tempat yang ramai-ramai. Kami ‘nyasar’ ke Potato Head sebab diajak adik aku Diladol. Dia sekeluarga memang liburan juga ke Bali, namun jadwal kami berbeda. Saya menginap di Canggu pas dia menginap di hotel tidak mahal di Kuta. Beda kelas, guys! *kibas kartu kredit* Jadi kami menentukan untuk ketemuan di sini sambil (rencananya) leyeh-leyeh menyaksikan sunset di Seminyak. Rencananya…

Mendengar kata beach club, aku langsung teringat Kak kancut Cumilebay. Saya baca review potato head di lapaknya. Kayaknya tempatnya oke punya. Tapi aku nggak percaya kecuali tempat ini kids friendly. Eh ternyata Kak Tesya dan kiddosnya dulu ke sini dan ditulis di blognya. Cukup family friendly menurut Kak Tesya, tersedia kolam renang untuk anak pula. Sip!

Kami hingga di sini kira-kira jam 3 sore diantar sopir Hotel Tugu yang sabar banget hadapi kemacetan jalanan sebab bubaran upacara melasti. Jalan masuk ke Potato Head ini semacam kios kecil yang dijaga sekuriti. Semua orang diperiksa. Si Ayah dilarang mempunyai tripod-nya. Huwooo… nggak jadi motret sunset dong. Masuk ke sini dilarang bawa makanan dan minuman. Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal Saya kebetulan tetap mempunyai botol air mineral, petugas tidak menyita namun berharap aku untuk menyimpannya di tas saja, tidak boleh diminum di dalam. Hokeee…

Setelah lolos sekuriti, kami disambut waiter. “Apa ibu dulu ke sini?” kata waiter bernama David (atau Dafid, atau Daveed, entahlah). Karena aku bilang belum pernah, dia mengatakan aturannya. Ada dua venue yang sanggup dipilih, yang Indonesia atau Internasional. Makanannya ya Guys, bukan orangnya. Saya tadinya memilih resto internasional sebab anak-anak dapat lebih puas makan roti atau pasta, namun ternyata udah penuh. Ya udah kelanjutannya kami sanggup tempat duduk di resto Lilin, masakan Indonesia. David mengatakan kami sanggup pesan di resto Internasional asalkan kami juga memesan di resto Indonesia. Kata David kami boleh ke mana saja di tempat beach club ini dan mengfungsikan layanan apa saja yang tersedia. Baiklah.

Harus aku akui, arsitektur Potato Head ini oke banget. Apalagi kabarnya seniman top Indonesia, Eko Nugroho dilibatkan di dalam proyek ini. *sungkem mas Eko* Yang paling keren pasti saja dekorasi dari daun-daun jendela yang dipasang mengitari venue ini. Sungguh selfieable dan instagrammable.

Little A langsung berpindah bikini dan bermain di pantai, ditemani Si Ayah. Saya menemani Big A yang hari itu tidak cukup enak badan. Kami memesan minuman di sini yang harganya mulai ribu untuk minuman tanpa alkohol.

Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal Bali

Keluarga Diladol kelanjutannya datang dan bergabung bersama kami. Cousin K juga sudi main di pantai. Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal Sejam sesudah itu kami baru pesan makanan, setelah buku menu diambil tanpa permisi dari meja kami, hahaha. Menu makan yang tersedia di sini adalah set menu untuk tiga porsi, harganya mulai 150 ribu, belum juga nasi. Big A ingin chicken wings. Tadinya dari pembicaraan Si David, dari set menu ini aku hanya sanggup memilih satu macam, dan dapat di sediakan di dalam 3 porsi. Huh? Waktu itu aku hingga tanya: jadi aku nggak sanggup pesan 3 macam makanan untuk set menu? “Tidak Ibu, hanya memilih satu menu saja.” Ternyata kata pelayan sanggup memilih 3 menu. Agak gak beres Si David ini. Porsinya memang kecil-kecil banget. Gak bakalan kenyang sih, hanya sanggup untuk ganjal perut saja. Big A puas banget chicken wings-nya, sayangnya hanya sanggup dua biji ๐Ÿ™‚

Menjelang matahari terbenam tampaknya Dila mulai kewalahan mengejar Cousin K yang berlarian ke mana-mana. Yah namanya anak-anak. Akhirnya mereka pamit duluan. Saya mencuci Little A yang bikininya penuh bersama pasir. Sepertinya dia amat nikmati pas bermainnya di pantai. Memang sih kecuali pantai di depan beach club begini bersih dan lebih sepi. Pantainya pun selamanya terbuka untuk umum kok, namun bisa saja memang harus jalur agak jauh dari ‘gerbang’ pantai yang umum. Toilet di PH juga bersih, luas dan adem banget. Petugas cleaning layanan amat ramah pada kami, membuktikan jalur dan membukakan pintu. Setelah bilas hingga bersih, aku mulai menyuapi Little A bersama nasi zaitun dan sayap ayam. Ketika itulah tersedia pelayan resto yang menghampiri kami dan mengatakan bahwa pas kami tinggal 15 menit lagi, sebab tempat ini udah di-booking. “Masih lama kok, tetap lima-belas-menit,” katanya sambil nyengir. Saya dan Si Ayah berpandang-pandangan. Hah, memangnya tersedia batasan pas di sini?

Saya tidak ingat kecuali tersedia ketentuan soal batasan pas di sini. Yang aku baca dari postingan teman-teman di blog, kecuali main ke beach club ya sekurang-kurangnya bakalan nongkrong hingga sunset. Ketika datang di awal juga tidak diberi tahu. Sungguh nggak nyaman banget, diingatkan untuk pergi pas aku sedang menyuapi Little A. Di keadaan seperti ini sudi nggak sudi aku dan Nino (suami saya) jadi berpikir, apakah kami dapat mendapat perlakukan seperti ini kecuali kami bule. Keluarga bule di seberang kami anteng-anteng aja nggak diganggu gugat. Sementara yang duduk-duduk di dekat kolam renang (kabarnya harus transaksi sekurang-kurangnya 500 ribu) sepertinya juga selamanya dapat berpesta hingga sunset.

Padahal kecuali dipikir-pikir, kami ini tidak cukup Ngostraliyah apa coba? Suami aku kuliah di Ostrali. Little A lahir di Sydney. Big A tetap lebih lancar ngomong bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Anak-anak ini lebih doyan roti dan keju (dan vegemite!) daripada nasi. Ironis ya? Intinya sih, kami gagal menyamar jadi bule, hahaha. Gak bisa saja kamu dapat diperlakukan seperti bule kecuali kulit kamu coklat, rambut kamu hitam.

Mungkin memang tampang aku lah masalahnya. Tampang aku yang simple ini. Kalau aku pinter mengfungsikan benges lipenstik seperti blogger termashyur Simbok Olenka bisa saja bakalan beda perlakuannya. Atau aku berdandan ala hijaber tenar mengfungsikan kacamata hitam besar meski di area tertutup (seriously), bisa saja bakalan beda pelayanannya. Atau apakah aku mestinya cas cis cus pake basa enggres bersama si David sehingga lebih dihormati? Mas dan Mbak, Bali ini tetap Indonesia kan? Saya dapat selamanya mengfungsikan bahasa Indonesia selama aku di Indonesia kecuali yang saja ajak berkata orang Indonesia juga.

Akhirnya Si Ayah bangkit dan bertanya apa alasan kami disuruh pergi bersama halus. Ini kami tetap tanya baik-baik ya. Si pelayan (yang berlainan dari yang mengusir kami) tidak sanggup menjelaskan, dia hanya bilang bahwa meja kami udah tersedia yang memesan. Dia tidak sanggup berkomentar mengenai batasan pas (mungkin memang tidak ada?). Lha kecuali tetap tersedia yang duduk di sini kenapa mejanya dikasih orang? Si pelayan berharap maaf namun tidak selesaikan masalah. The damage has been done.

Meski bisa saja si pelayan tidak dapat amat mengusir kami, Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal aku udah tidak nyaman duduk di meja. Oke, kami dapat pergi, namun setelah aku habiskan makanan seharga 400 ribu ini, biar nggak mubazir. Sakit hati aku juga sebab aku udah mengeluarkan duit yang tidak sedikit, namun mendapat layanan yang buruk, amat tidak sepadan. Masih mending adik saya, Dila, yang meski mengaku jadi food blohher namun keukeuh pesen satu minuman doang dan ‘cuma’ habis 60 ribu. Modal 60 ribu kecuali ‘diusir’ bisa saja sakit hatinya dikit aja :p Lha saya? Pahit bener. Ternyata memang pinteran kiat adik aku daripada aku ๐Ÿ˜€ Kalau nggak mengfungsikan ‘diusir’ bisa saja ya asyik-asyik aja di PH. Baca cerita mengenai Potato Head di blognya.

Setelah membayar dan sebelum saat pergi, Si Ayah sekali kembali bertanya alasan kami ‘diusir’. Kali ini mengfungsikan bahasa Inggris yang faseh sehingga diperhatikan serupa waiter-waiter trendi itu. Eh Si David bilang kecuali dia udah memberi tahu aku kecuali kami diberi batasan waktu. “YOU LIE!” semprot Si Ayah. Duh, merinding disko gak sih dibelain suami kayak gitu? Emang David nggak dulu kasih tahu saya, Si Ayah tahu sebab tersedia di belakang aku ketika aku berkata bersama David. Lagipula, kecuali dia memberi tahu aku kecuali kursi itu hanya sanggup dipakai hingga sebelum saat sunset, aku bakalan menolak sebab rancangan awal aku dan Dila adalah nikmati sunset. Si Ayah yang cas cis cus minta dipanggilkan manajer. Si manajer yang kata para waiter sedang repot itu kelanjutannya datang juga dan berharap maaf. Manajer menawarkan free drink untuk Si Ayah. “No, I don’t need your drink,” balasnya. Ya udah deh, kuliah gratis mengenai keadilan sosial bagi semua rakyat Indonesia oleh pak dosen :p

Menurut Si Ayah, David si waiter ini dari awal memang nggak ingin kami tersedia di tempat internasional. Saya jadi ingat, mulanya dia menawarkan pada saya, sudi di tempat internasional atau Indonesia? Ketika aku memilih tempat internasional, si David jadi bilang kecuali udah penuh. Lha kenapa tadi ditawarkan? Apa dia tiba-tiba berubah pikiran? Jadi tersedia tiga ‘kesalahan’ si David ini, setidaknya menurut asumsi kami. Entah dia sengaja atau tidak, kami tidak tahu.
1. Menghalangi kami duduk di tempat Internasional.
2. Memberi info yang tidak benar mengenai menu set. Saya hanya boleh pesan satu jenis, padahal boleh pesan tiga.
3. Memberikan tempat duduk kami kepada orang yang booking dan berkata bohong bahwa dia udah bilang pada kami kecuali tersedia batasan waktu.

Ketika kami tunggu pesawat di bandara Ngurah Rai, aku terima e-mail dari manajer Potato Head. Dia berharap maaf atas perihal yang kami alami dan menawarkan gantinya kecuali kami idamkan ke sana lagi. Thank you but no. I wish I could undo this experience. Biar aku nggak usah ingat-ingat lagi. Rasanya aku nggak sanggup datang ke Potato Head lagi. Saya sungguh marah dan terhina diperlakukan tidak baik, lebih parah lagi, oleh bangsa sendiri. Seharusnya bersama harga makanan dan minuman seperti itu, Potato Head mempunyai standar layanan yang amat tinggi dan tidak membeda-bedakan tamu lokal dan internasional.

Saya menunda menulis pengalaman ini untuk memberi pas sehingga kemarahan aku mereda. Tapi nyatanya hingga saat ini tetap saja baper sakit hati kecuali ingat ini. Ketika datang ke Singapura, aku sempat datang ke kafe Three Buns, yang tetap satu grup bersama Potato Head. Di sana aku dilayani bersama baik, meski memang sebagian besar tamunya adalah expatriat, bukan orang Asia. Sementara pengalaman aku di negeri sendiri… Saya menulis untuk mengingatkan siapa pun di dunia hospitality sehingga selamanya menghormati tamu, tidak peduli asal usulnya atau tampang sederhananya. Kalau memang tersedia ketentuan khusus untuk tamu sebaiknya ditulis dan dijelaskan bersama gamblang di awal, namun berlaku untuk semuanya ya, jangan membeda-bedakan.

Adakah yang dulu mendapat perlakuan yang nggak enak di beach club? Share di komentar ya. Thanks for reading ^_^

>>> UPDATE 18 APRIL 2016 <<<<>
Pihak Potato Head pusat udah menghubungi aku melalui telepon. Berikut adalah statement dari PH.

“Kami udah berkata langsung bersama Ibu Ade Kumalasari. Kami amat menyesali dan sungguh berharap maaf kepada Ibu beserta keluarganya atas kesalahan komunikasi yang udah terjadi dan atas pengalaman yang tidak menyenangkan di Potato Head Beach Club.

Kami selamanya idamkan layanan terbaik kepada semua pelanggan kami dan berkomitmen untuk memperlakukan semua pelanggan kami secara sama, yakni sebagai tamu terhormat di rumah kami. Ini adalah nilai perusahaan yang kami ajarkan kepada semua bagian staf kami. Kami adalah perusahaan Indonesia yang dioperasikan oleh orang Indonesia, dan kami menyambut dan menghormati semua tamu kami bersama setara tanpa membeda-bedakan.

Terima kasih Ibu Ade atas inputnya. Kami dapat menambah pelatihan kami sehingga staff kami lebih lengkap sewaktu beri tambahan informasi dan berkomunikasi, dan sehingga kami sanggup beri tambahan layanan yang terbaik kepada semua tamu kami.”

Dengan ini aku nyatakan persoalan Kelakuan Ketika Makan Di Resto Mahal ini selesai ya. Semoga Bali selamanya jadi destinasi yang nyaman bagi kami semua. Terima kasih atas bantuan teman-teman semua.

Empat ratus ribu namun rasanya pahit :'(

Ps: untuk review Potato Head yang lebih ceria bersama foto makanan yang lebih menggairahkan, baca di blog Dila ya.

Popular Posts
Impian aku jalan-jalan ke Eropa kelanjutannya terkabul th. ini. Alhamdulillah. Senang dan stimulus banget bikin rancangan dan itinerary. Tapi… tentunya harus sudi ribet dikit ngurus visa.

Schengen itu apa?
Wilayah Schengen meliputi 26 negara di Eropa yang udah menghapuskan pemeriksaan paspor di perbatasannya. Kalau kami mempunyai visa Schengen, kami sanggup bebas keluar masuk 26 negara berikut tanpa pemeriksaan paspor lagi. Dengan kata lain, ketika kami mengajukan visa (izin berkunjung) ke keliru satu negara yang juga di lokasi Schengen, kami mendapat bonus visa ke 25 negara lainnya. Jadi memang rugi besar kecuali visa Schengen hanya digunakan untuk datang ke satu negara saja ๐Ÿ™‚

Disclaimer:
Cerita ini berdasarkan pengalaman kami ke Bali tanggal 5-6 Maret 2016. Kebijakan operasional Grab atau tarif bisa saja berlainan di lain waktu. Cerita ini tidak disponsori oleh Grab, kami membayar sendiri semua pengeluaran kami ๐Ÿ™‚

Ketika keluarga aku dan keluarga adik saya, kelanjutannya menentukan ke Bali bareng, kami mulai kasak-kusuk mengusahakan transportasi selama kami di sana. Enaknya gimana? Sewa mobil, sewa motor, naik taksi, mengfungsikan Uber, atau mengfungsikan Grab? Tadinya adik aku sekeluarga (anaknya baru satu, ponakan aku K yang keren, usia 2 tahun) sudi sewa motor saja. Sementara dari bandara ke hotel sudi numpang aku naik Uber, sebab kabarnya Grab Car dilarang beroperasi di bandara Ngurah Rai.

Bagi saya, memiliki rencana perjalanan adalah kesenangan tersendiri. Travel planning is half the fun. Apalagi ketika menyusun itinerary untuk perjalanan yang udah aku impikan sejak dulu. Ke Eropa cuy!

Karena dapat pergi sekeluarga, aku harus mengakomodasi permintaan tiap-tiap orang, yang pasti saja berbeda-beda. Yang jelas, kami dapat tersedia di Paris sekurang-kurangnya 4 hari, sebab Si Ayah tersedia tugas presentasi paper, mempunyai nama Indonesia. Selanjutnya ke mana? Bisa saja sih kami hanya keliling-keliling seputar Paris dan di satu negara Perancis saja. Perancis yang besar itu tidak dapat habis dijelajahi di dalam pas dua minggu. Tapi mosok udah hingga ke Eropa hanya ngendon di satu negara? Rugi banget, lebih-lebih udah repot urus visa Schengen yang sanggup dipakai di 26 negara. Tambahan lagi, Big A udah pengin banget menambah koleksi negaranya.

Saya survey ke bagian keluarga. Si Ayah bilang idamkan ke Swiss. Meskipun Si Ayah puas bersama wisata kota atau sejarah, dia lebih puas kecuali sanggup memotret pemandangโ€ฆ

Delapan th. yang lalu, ketika tetap tinggal di Sydney Australia, kami berkesempatan untuk ‘naik’ kapal pesiar sebab rekan aku yang bekerja sebagai kru kapal menimbulkan kami sekeluarga untuk datang ke kapal. Tapi ya hanya naik doang ketika kapal berlabuh, hehehe. Saya pun sempat foto-foto di restoran bersama piring kosong sambil berharap suatu pas sanggup naik kapal pesiar beneran, bukan yang sedang parkir.

Alhamdulillah peluang itu kelanjutannya datang juga. Kami baru saja pulang dari cruise 4 malam bersama Royal Caribbean. Kami berlayar dari Singapura, pelabuhan yang paling dekat bersama Indonesia, yang dilayani oleh Royal Caribbean. Rute cruise kami selama 5D/4N adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura.